Daripenjelasan diatas dapat diketahui, bahwa responden yang paling tinggi memilih jawaban ya pada pertanyaan apakah di dalam kajian rutin ba'da maghrib membahas tentang DalamAl-Qur'an banyak ayat yang memuat masalah kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua diantaranya dalam surah Lukman ayat 12-15. "Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu "Bersyukur kepada Allah, dan banrang siapa yang bersyukurkepada Allah maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa 10Hikmah dari Beriman Kepada Malaikat Allah. Merupakan bentuk dari taqwa kita kepada Allah Ta'ala. Memperkuat rasa keimanan kita terhadap Allah Ta'ala. Semakin takjub akan kebesaran Allah Ta'ala. Merasa diawasi sehingga berpikir dulu sebelum berbuat. Semangat dalam berbuat kebaikan karena ada malaikat yang mencatat. Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd Hỗ Trợ Nợ Xấu. JawabanHati menjadi tenang,dihormati banyak orang,mendapat pahala dari Allah,disayang Allah, jika salah. Muslimahdaily - Abu Hurairah ra. berkata , Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tetangga. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamu” HR Bukhari dan Muslim. Hadits diatas menghimpun tiga hal yang termasuk kepada akhlak terpuji di dalam hubungan antar anggota masyarakat, yaitu selalu mengucapkan kata-kata yang baik, memuliakan tetangga, dan memuliakan tamu. Di dalam haditsnya, Abu Hamzah, Anas bin Malik ra., seorang pelayan Rasulullah, berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Seorang diantara kalian tidak beriman jika belum bisa mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri” HR Bukhari dan Muslim. Hadits tersebut menunjukkan bagaimana hendaknya seorang muslim beradab dan berakhlak antar sesamanya di dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dengan tetangga kita. Tetangga kita adalah hubungan yang terdekat di kehidupan bermasyarakat. Bukankah seorang tetangga yang akan mengetahui dan membantu kita seandainya kita tertimpa musibah? Tetangga juga yang ikut merayakan kebahagiaan bersama kita selain keluarga kita. Diantara tanda kesempurnaan iman dan Islam adalah berbuat baik kepada tetangga dan tidak menyakitinya. Berbuat baik kepada tetangga merupakan keharusan. Islam sangat memperhatikan masalah ini. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari, dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jibril terus mewasiatkanku perihal tetangga. Hingga saya mengira bahwa tetangga akan menjadi ahli waris”. Bahkan, Allah SWT mensejajarkan perintah berbuat baik kepada tetangga dengan perintah untuk beribadah kepada-Nya dan setelah berbuat baik kepada orang tua dan kerabat. Sebagaimana Allah berfirman dalam surah An-Nisaa’ ayat 36, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. Dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang Muslim dan yang bukan Muslim. Oleh karena itu, menyakiti tetangga merupakan suatu dosa dan akan berbuah siksa yang pedih. Bahkan, seperti yang disebutkan dalam hadits, bahwa orang yang tidak menghormati tetangga maka imannya belum sempurna. Na’udzubillah. Bukhari meriwayatkan dari Abi Syarih ra., bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, tidak sempurna imannya.”, “Demi Allah, tidak sempurna imannya.”, “Demi Allah, tidak sempurna imannya.”. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya, “Siapa yang tidak sempurna imannya, Ya Rasulullah?”. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya”. Imam Ahmad dan Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, Fulanah selalu shalat malam dan puasa di siang harinya. Akan tetapi ia sering mencela tetangganya.” Rasulullah menjawab, ”Ia tidak baik, dan tempatnya adalah neraka”. Disebutkan kepada Rasul shallallahu alaihi wasallam, bahwa Fulanah hanya melaksanakan shalat wajib, puasa Ramadhan, dan bersedekah secuil keju. Akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya”. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ia masuk surga”. Ada banyak cara untuk berbuat baik kepada tetangga, di antaranya kebutuhannya, Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Umar ra. berkata, “Jangan sampai seorang mukmin kenyang, sedang tetangganya kelaparan”.Hakim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah sempurna iman orang yang tidur dalam keadaan kenyang sedangkan tetangganya kelaparan, padahal ia mengetahui”. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Dzar ra., bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah berpesan kepadanya, “Jika kamu memasak makanan yang berkuah, maka banyakkanlah airnya. Lalu berilah mereka bagian”. sesuatu yang bermanfaat Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jangan sampai kamu melarang tetanggamu memasang kayu pada dindingmu” HR Bukhari dan Muslim. hadiah Dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Janganlah menyepelekan hadiah kepada tetangga, meskipun hanya tulang yang sedikit sekali dagingnya” HR Bukhari Demikianlah salah satu akhlak yang baik yang diajarkan Islam kepada umatnya, yaitu menghormati tetangga, sebagaimana yang dapat kita lihat bahwa Allah SWT, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberi petunjuk untuk menghormati tetangga dalam Al-Qur’an dan hadits. Wallahu a’ “Al-Wafi” Syarah kitab Arba’in An-Nawawiyah, oleh Dieb Al-Bugha Muhyidin Mistu. Di antara bentuk kepedulian agama Islam pada kehidupan sosial adalah adanya aturan dalam bertetangga. Islam memberikan hak-hak dan tanggungjawab bagi semua orang atas tetangganya. Karenanya, seorang muslim harus memperhatikannya. Tulisan ini fokus pada 8 hak tetangga yang harus dipenuhi. Islam mengajarkan kepedulian kepada sesama manbusia dalam konteks bertetangga, baik berdasarkan hubungan darah maupun dekatnya tempat tinggal. Mereka yang dekat tempat tinggalnya dinamakan al-jar atau al-jiran, yaitu para tetangga. Pola interaksi sosial di antara al-jar atau al-jiran melahirkan hak dan kewajiban yang harus diperhatikan guna menumbuhkan sikap kepedulian antar sesama. Menyadari hak dan kewajiban bertetangga dalam ajaran Islam merupakan esensi etika bermasyarakat. Hanya orang-orang yang berhasil membangun keseimbangan di antara hak dan kewajiban bertetangga secara proporsional, adil, dan bermartabat yang akan merasakan kebahagiaan hidup bersama di tengah-tengah masyarakat yang majemuk. Aktualisasi dan pengembangan diri menuju kebahagiaan lahir batin, dunia dan akhirat, dalam kehidupan bersama di tengah-tengah masyarakat merupakan tujuan utama etika bermasyarakat yang tertumpu pada tanggung jawab sosial. Islam mensyariatkan kepada pemeluknya agar selalu berbuat baik kepada mereka yang hidup berdampingan, serta tidak boleh berbuat jelek kepadanya. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits, yaitu وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بوَائِقَهُ. رواه البخاري Artinya, “Demi Allah, tidak sempurna imannya, demi Allah tidak sempurna imannya, demi Allah tidak sempurna imannya.” Rasulullah saw. ditanya “Siapa yang tidak sempurna imannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman atas keburukannya.” HR al-Bukhari. Adapun anjuran untuk berbuat baik kepada tetangga sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah saw dalam hadits خَيْرُ الأَصْحَابِ عِنْدَ الله تَعَالَى خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ، وَخَيرُ الجِيرَانِ عِنْدَ الله تَعَالَى خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ Artinya, “Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah mereka yang paling baik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah mereka yang paling baik kepada tetangganya.” HR at-Tirmidzi. Sebelum menjelaskan 8 hak tetangga yang harus dipenuhi, penting kiranya penjelasan siapa sebenarnya yang dimaksud tetangga atau al-jar dalam Islam. Dengannya, kita bisa tahu mana yang masih masuk dalam kategori tetangga dan yang tidak. Syekh Hafidz Hasan Mas’udi dalam kitab Taisirul Khalaq fi Ilmil Akhlaq menjelaskan, bahwa tetangga adalah setiap orang yang tempat tinggalnya berdekatan dengan kita. Ukuran dekat dalam hal ini adalah dengan jarak 40 rumah dari setiap arah, yaitu timur, barat, utara, dan selatan. Dengan demikian, orang yang tempat tinggalnya masih berada dalam jarak 40 rumah, ia adalah tetangga yang harus dipenuhi hak-haknya. Hasan Mas’udi, Taisirul Khalaq fi Ilmil Akhlaq, [Maktabah al-Hidayah], halaman 14. Adapun hak-hak tetangga yang harus dipenuhi merujuk hadits di antaran​​​​​​​ya adalah berbuat baik kepada mereka. Jika membutuhkan pertolongan, maka kita siap untuk menolongnya, sebagaimana ditegaskan dalam hadits Rasulullah saw أَتَدْرُوْنَ مَا حَقُّ الْجَارِ؟ إِنِ اسْتَعَانَ بِكَ أَعَنْتَهُ، وَإِنْ اِسْتَقْرَضَكَ أَقْرَضْتَهُ، وَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ هَنَّأْتَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيْبَةٌ عَزَيْتَهُ Artinya, “Apakah kalian tahu, apa saja hak tetangga? Yaitu, jika dia meminta tolong kepadamu, kamu harus menolongnya. Jika dia meminta pinjaman, engkau harus memberikan pinjaman. Jika dia mendapatkan kebaikan, engkau menyampaikan selamat untuknya. Jika dia ditimpa musibah, engkau harus menghiburnya.” HR at-Thabarani. Syekh Hafidz Hasan Mas’udi dalam kitab akhlaknya menambah 8 hak tetangga yang harus dipenuhi, yaitu; 1 memberi salam terlebih dahulu kepadanya; 2 membalas kebaikannya; 3 menjenguknya ketika sakit; 4 memberikan ucapan selamat ketika mendapatkan kebahagiaan; 4 turut berduka cita jika dia tertimpa musibah; 5 tidak memandang istri, anak perempuan, dan pembantu perempuannya; 6 menghindari sesuatu yang tidak membuatnya bahagia; 7 menyambut tetangga dengan wajah berseri-seri dan penuh hormat; dan 8 memberikan hak-haknya yang bersifat materi. Hasan Mas’udi,Taisirul Khalaq, halaman 14-15. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Islam memposisikan tetangga di tempat yang sangat mulia. Masing-masing dari setiap manusia harus menyadari hal ini, karena menyadarinya merupakan bentuk kepatuhan terhadap ajaran Islam itu sendiri. Begitu juga sebaliknya, orang yang tidak memberikan hak-hak tetangga, sama halnya dengan tidak patuh pada Islam. Karenanya, dalam beberapa teks hadits disebutkan, bahwa memuliakan tetangga dengan cara memberlakukan dengan baik dan memberikan hak-haknya, merupakan representasi keimanan kepada Allah dan hari kiamat. Wallahu a’lam. Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.

diantara hikmah berakhlak kepada tetangga adalah